Selasa, 09 November 2010

Coffee

Secangkir kopi.
Menghantar suasana panas menjadi hangat.
Memulai mengingat peristiwa demi peristiwa.
Menarik nafas sejenak lalu bercerita...

Dari secangkir kopi...
Baru aku ketahui keadaan seorang sahabat yang sakit.
Mencoba mengingat mengapa aku tidak pernah mengetahuinya.
Menyesal tidak memberikan dukungan di sampingnya saat ia tahu pertama kali.

Ketika menyeduh kopi,
aku bertanya dalam hati...
Mengapa malam begitu cepat berlalu?
Bukankah pagi sudah terlalu lama menguasai?

Menyukai kopi...
Tetapi tubuh tidak merasa kuat.
Berusaha bertahan saja.
Namun tetap tidak menyelesaikan masalah.

Hidupku tetaplah hidupku.
Seperti secangkir kopi yang tetap secangkir,
namun penuh dengan berbagai masalah.

Rabu, 03 November 2010

Serba Dadakan

Yang namanya acara seharusnya dibuat planning dari jauh hari. Tetapi seringkali kalau sudah direncanakan ujung-ujungnya malah batal. Begitu juga yang sering terjadi kalau aku dan teman-teman gengku yang satu ini bikin acara. Mau pergi makan saja susah. Ada saja alasan yang dibuat. Yang dokter gigi selalu punya alasan masih praktek. Yang kerja kantoran bilangnya lembur. Belum alasan sakit, ke undangan kawinan, acara keluarga, dan lain-lain. Fiuh!!!
Tetapi setiap acara selalu meninggalkan bekas di hati. Apapun acaranya. Berkumpul dengan mereka menjadi suatu pemicu semangat di kala hati sedang mendung. Kalau ditanya berapa lama kami berteman hmm...sejak masih memakai seragam kotak-kotak itu lho. So sudah tentu persahabatan kami bisa dibilang sangat erat. Terkadang walau jarak memisahkan kami (duh bahasanya...) tetapi kami seperti terikat dengan benang yang tak tampak. Hubungan kami masih bisa terjaga dengan baik. That's why I always say thanks to God for this friendship.


Kami pernah dadakan pergi ke Bandung. Bermula dari chattingan via bbm tiba-tiba terbersit mau melakukan one day trip ke Bandung keesokan harinya di hari pertama Lebaran tahun ini. Dan simsalabim!!! Kami benar-benar ke Bandung. Seharian menjelajahi kota Bandung dan pulang hari. Capek? Tentu. But I had a great time with them. Dalam satu hari itu kami belanja dan juga makan. Bandung memang surga belanja. Makanya kami sempat keluar masuk Factory Outlet di jalan Riau...


Sebelumnya, kami sempat makan di Mie Naripan...Mie ini sangat terkenal di Bandung. Waktu ke sana pengunjungnya ramai. Sampai-sampai harus rebutan tempat duduk. Tetapi perjuangan mendapatkan tempat duduk tidak sia-sia. Mienya memang enak.


Pada malam hari, setelah lelah berkelana di FO kami mencoba ke salah satu restoran di Bandung. Maxi Resto. Restoran khas Bandung yang menonjolkan pemandangan sebagai ciri khasnya dan terletak di dekat dengan Universitas Parahyangan. Dengan desain dapur terbuka sehingga bisa melihat para koki menyiapkan hidangannya dan tatanan meja-meja yang memberi kesan elegan. Menu Western dan European menjadi pilihan makanan di restoran ini. Biaya yang dikeluarkan untuk makan di restoran ini ternyata tidaklah mahal. Cukup untuk kantong kami.


Kuliner...makanan...nah ini yang paling memperat kami. Dimana lagi tempat yang paling nyaman untuk bertemu sambil bercerita satu sama lain sambil menyantap hidangan restoran atau kafe tenda. We love foods....Everybody loves food...
Pernah dengar Kafe Bukit Pelayangan? Pasti belum. Karena aku pun baru dengar minggu lalu saat salah satu temanku memberi ide untuk ke kafe ini. Terletak di daerah Serpong, kafe ini memberikan hidangan khas Sunda dengan suasana terbuka seperti berada di atas bukit dimana lampu-lampu dari perumahan tampak dari tempat kami makan. Mirip seperti kafe-kafe di Bandung. Pilihan menu yang menjadi favorit kami yaitu Cumi Goreng Mayori. Hmm...


Belum lama ini kami membuat janji (yang lagi-lagi dadakan) makan malam di Restoran Hay Thien Puri. Memang sebelumnya kami sudah berkali-kali merencanakan pergi ke restoran satu ini tetapi selalu gagal. Sebenarnya makanan yang disediakan di restoran ini cukup simple. Shabu-shabu. Tetapi memang dengan sistem layanan yang diberikan berbeda dengan restoran semacamnya. Disini pelayan yang akan memasakkan pilihan isi dari shabu-shabu tersebut di setiap meja. Menu yang menjadi favorit kami yaitu pangsit dan kulit tahu. Yummy...


Yah masih banyak sepertinya perjalanan kuliner kami. Ada yang sudah dan banyak yang belum. Dari pengalaman yang kami lewati, membuat janji dadakan memang lebih jalan ketimbang direncanakan. Namun alangkah baiknya jika membuat suatu planning terlebih dahulu setiap kali membuat acara. Sehingga segala sesuatu bisa lebih siap.

Selasa, 02 November 2010

Fenomena Lee Min Ho

"Eh Na, sudah nonton Personal Taste belum?"
"Belum! Film apa tuh? Korea? Bagus ya?"
"Aih...bukan bagus lagi, yang main tuh si Lee Min Ho..."
"Hah? Siapa tuh? Emang gue kenal?"
"Ya kagalah...geblek! Itu yang main di Boys Before Flowers. Cakep banget tau! Gue mimpi punya cowok kayak gitu."
"Waduh, bisa gempa dua hari dua malam kalau loe dapat cowok cakep haha..."
"Siauul loe, Na!"



Begitulah reaksi seorang temanku saat membicarakan seorang Lee Min Ho. Tampaknya wajah tampannya sangat membekas di hati setiap cewek penggemar film Korea. Apalagi sekarang film-film Asia seringkali diputar di televisi swasta kita. Tentu saja penggemar Lee Min Hoo semakin banyak saja. Dan tidak jarang yang akan berpikir seperti temanku tadi. Ingin memiliki pacar yang seperti Lee Min Hoo. Huh! Memangnya gampang memiliki pacar tampan. Sudah dilirik sana sini, nggak cewek saja yang lirik lagi. Cowok-cowok juga banyak yang lirik. Dan kata siapa cowok tampan tidak bersolek. Mereka justru sangat mementingkan kebersihan wajahnya. Aduhh malas dehhh!!!
(Kayak pernah punya cowok tampan saja...)

Memiliki pacar tidak semudah di film. Sekian kali aku behubungan dengan cowok dan sekian kali pula gagal. Kalau ditanya soal tampan atau tidak, pada saat pdkt dan awal jadian pasti terlihat tampan. Mau si cowok lagi nungging pun wajahnya selalu terlihat tampan. (Dodol banget nggak sih...)
Tapi actually they are really handsome kok hehe...bohong kalau aku bilang tidak melihat wajahnya dulu saat pdkt. Justru yang pertama kali dilihat itu ya wajahnya. Nggak mungkin kan pas kenalan lihat pantatnya. (Gosh!!!)

Tetapi setiap manusia itu memang diciptakan berbeda-beda. Mengenali setiap pribadi merupakan hal yang menarik. Untuk itulah kisah cinta selalu diwarnai oleh berbagai cerita. Manis bercampur pahit. Tawa diselingi tangis. Pertemuan yang akan selalu diakhiri dengan perpisahan. Namun perpisahan bukanlah akhir dari hidup. Begitulah dunia ini selalu berputar.

Jika aku bercerita mengenai cowok-cowok yang pernah dekat denganku rasanya banyak sekali kekonyolan yang terselip di dalamnya. Tetapi di situlah aku belajar banyak hal tentang suatu hubungan. Pernah aku dekat dengan seseorang yang sangat religius. Sampai-sampai ia mencoba membujukku untuk pindah agama. Sering percakapan kami mengarah ke agama dan suatu hari saat ia mulai mengeluarkan berbagai argumen yang memojokkan agamaku aku pun mengambil langkah pasti. Hubungan itu aku sudahi. Menurut logikaku, sudah seharusnya sepasang insan saling menghargai perbedaan yang ada di antara mereka. Tetapi ternyata keputusanku untuk menyudahi hubungan tidak berakhir begitu saja. Si cowok satu ini malah mengancam akan bunuh diri. Dia datang ke rumah dengan alasan untuk menyapaku terakhir kalinya. What??? It was insane. And he was crazy. One of the handsome men but crazy.

Sosok cowok tampan lain yang pernah dekat denganku sempat bertahan cukup lama. Lima tahun. Oh bukan cukup sepertinya. Memang lama. Seorang yang tidak hanya dianugrahi ketampanan tetapi juga kepandaian. Sering menjadi juara kelas pada saat sekolah dan berhasil menyelesaikan SMU hanya dua tahun. Calon dokter dan saat ini sedang mengejar impiannya menjadi spesialis. Cukup tentang kehebatannya. Banyak orang yang bertanya mengapa hubungan kami berakhir. Janggal mendengar lima tahun dibuang begitu saja. Tetapi ya inilah yang terjadi. Ia pergi memilih bersama wanita yang sempat dekat dengannya saat kami masih berhubungan. Sakit hati? Tentu saja. Aku cuma manusia biasa. Namun banyak hikmah yang bisa dipetik dari kejadian waktu itu. Salah satunya mengenai kepercayaan. Sulit meletakkan kepercayaan pada seseorang. Dan ketika dikhianati, membangun suatu tonggak kepercayaan menjadi lebih sulit dari yang kuperkirakan. One of the handsome men but he can't be trusted...

So...this is what I'm thinking right now...
Wajah tampan tidaklah menjanjikan sosok yang baik. Bahkan wajah sekelas Lee Min Ho sekalipun tidak memberikan kepastian memiliki kepribadian yang matang. Tetapi ketika seorang pria bersikap dewasa dan bertanggung jawab, saat itu penampilannya akan menunjukkan ketampanan dengan sendirinya. Tidak hanya wanita yang bisa memiliki inner beauty. Namun aku yakin pria juga sama.

Senin, 01 November 2010

I'm 25 Years Old!!!

25 tahun...
Seperempat abad...

Di usia ini rasanya seperti berada pada persimpangan jalan. Bimbang mulai merasuki jiwa dalam menentukan berbagai pilihan yang bisa dilakukan dalam hidup ini. Usia yang tidak lagi muda untuk berpikir. Namun tampaknya berpikir sebagai orang tua belum saatnya juga.

Ketika aku melirik ke sekitarku, aku mendapatkan banyak rekan-rekan seusiaku yang sudah menapaki pintu karier bahkan mulai menjajaki kursi puncak dalam karier mereka. Ya...tentu bukanlah mereka yang berada di satu profesi denganku. Hmm belum bisa aku sebut profesi sepertinya. Untuk mendapatkan gelar di depan namaku saat ini ternyata tidaklah semudah yang aku pikir. Berbagai rintangan harus aku lalui. Dan dalam waktu beberapa bulan di depan aku masih harus mengikuti berbagai prosedur sebelum gelar itu diserahkan padaku. Sudah bisakah ditebak aku mengambil jalur pendidikan apa? Dari sekian disiplin ilmu yang ditawarkan oleh universitas-universitas di muka bumi ini, jurusan yang aku ambil memiliki waktu pendidikan terlama. Yup! Kedokteran. Medical. Empat tahun preklinik. Lulus sebagai Sarjana Kedokteran. Dua tahun pendidikan profesi. Baru bisa dipanggil "Dok..."

And now here I am. Setelah aku menyelesaikan pendidikan profesiku, ternyata masih ada yang harus dijalani terlebih dahulu sebelum namaku berubah menjadi dr Anatasia Noorsaputera. Wow I never imagine everyone call me Doc...

Menurut peraturan terakhir yang diberitahukan via universitas, setelah selesai menjalankan pendidikan profesi para calon dokter wajib mengikuti ujian kompetensi yang dilaksanakan oleh pemerintah. Tetapi syarat untuk mengikuti ujian ini, para calon dokter wajib mengikuti tryout yang dilaksanakan sebulan sebelumnya. Pendaftaran untuk tryout dibuka sebulan sebelum tryout dilakukan. Dan syarat untuk ikut tryout para calon dokter sudah selesai mengikuti pendidikan profesinya dan mendapatkan surat kelulusan sementara dari universitas. Untuk mendapatkan surat kelulusan tersebut, universitas akan mengadakan rapat besar yang melibatkan para konsulen pendidik dari setiap divisi Rumah Sakit tempat pendidikan profesi dari para calon dokter. Rapat tersebut disebut Rapat Yudisium.

Begitu rumitnya persyaratan yang harus dijalankan. Hal ini sangat memakan waktu yang terasa cepat tetapi juga lambat. Perlukah kesabaran ditingkatkan? Akankah kesabaran membuahkan hasil yang sesuai dengan harapanku? Akankah peluang membangun karierku yang sepertinya 'terlambat' dibanding rekan-rekanku berjalan mulus setelah ini? Jika aku teruskan pertanyaan-pertanyaan di dalam otakku tentu saja tidak akan selesai aku tuliskan disini.

25 tahun...
Seperempat abad...

Aku masih di tempat. Belum menapaki apa-apa. Berdiri tetapi belum berani bergerak. Berdoa. Dan berdoa. Baru itu yang aku lakukan.
*Sigh*

Minggu, 15 Agustus 2010

Musik Bagi Penderita Autis

Di balik kekurangan setiap manusia, Tuhan tetap memberikan bekal berupa kelebihan pada diri masing-masing individu. Sebut saja Michael Anthony, anak usia 7 tahun penderita tuna netra dan autis yang pandai memainkan alat musik piano dan telah mampu menguasai lebih dari seratus lagu, mulai dari aliran klasik hingga pop. Ia juga mampu menguasai musik-musik dari Mozart, Chopin, Liszt dengan tingkatan yang sulit dilakukan oleh orang dewasa normal sekalipun. Ia cukup mendengarkannya sekali atau dua kali, dan selanjutnya ia mencari nada-nada musik yang telah didengarnya itu dengan cepat. Sementara Ade Irawan, kini 15 tahun, adalah pianis remaja yang telah malang melintang di dunia jazz dan blues hingga ke Chicago Amerika Serikat. Ade yang jago main piano secara otodidak ini, mempunyai jadwal ber-jam session dengan musisi-musisi jazz dan blues setiap pekan di kandang musik jazz dan blues Amerika itu. Kedua pianis muda ini terdaftar dalam MURI karena kemampuan tersebut di tengah keterbatasan mereka.
Autisme saat ini memang bukan hal yang asing. Di tengah era globalisasi ini, semakin banyak penderita autisme sehingga semakin banyak pula bermunculan alternative terapi yang ditujukan untuk para autisme ini. Salah satu metode untuk menangani anak-anak autis adalah terapi musik. Tujuan dari terapi musik ini adalah untuk mempertajam daya konsentrasi anak autis serta membantu mengasah kemampuan komunikasi. Pada awal mula, anak-anak autis ini diberi materi pengenalan nada, ketukan-ketukan, bunyi drum, dan sebagainya. Jika sudah menguasai materi tersebut, maka mereka dapat menguasai keterampilan lebih lanjut seperti belajar piano. Stimulasi ini bertalian erat dengan fungsi pengaturan otak pada tubuh. Dianggap dengan konsentrasi anak yang meningkat, maka fungsi tubuh lainnya juga otomatis dapat membaik.
Selain itu, menurut penelitian musik dapat berperan sebagai rangsangan luar yang membuat si anak nyaman, karena tidak terlibat kontak langsung dengan manusia. Oleh karena itu, selain meningkatkan konsentrasi anak autis terapi musik ini juga dapat meningkatkan perkembangan emosi sosial anak. Seperti yang sudah diketahui, anak autisme cenderung secara fisik mengabaikan atau menolak kontak sosial yang ditawarkan oleh orang lain. Dan terapi musik ini dapat membantu menghentikan penarikan diri tersebut dengan cara membangun hubungan dengan benda, dalam hal ini instrumen musik. Anak-anak autisme, berdasarkan hasil studi, melihat alat musik sebagai sesuatu yang menyenangkan. Anak-anak ini biasanya sangat menyukai bentuk, menyentuh dan juga bunyi yang dihasilkan. Karena itu, peralatan musik ini bisa menjadi perantara untuk membangun hubungan antara anak autisme dengan individu lain. Selain meningkatkan perkembangan emosi sosial, terapi musik juga dapat mendorong pemenuhan emosi pada anak. Sebagian besar anak autisme kurang mampu merespon rangsangan yang seharusnya bisa membantu mereka merasakan emosi yang tepat. Tapi, karena anak autisme bisa merespon musik dengan baik, maka terapi musik bisa membantu anak dengan menyediakan lingkungan yang bebas dari rasa takut.
Kegunaan lain terapi musik bagi anak autis adalah dapat membantu komunikasi verbal dan nonverbal mereka dengan cara meningkatkan produksi vokal dan pembicaraan serta menstimulasi proses mental dalam hal memahami dan mengenali. Anak-anak autisme memang memiliki hambatan dalam berkomunikasi baik secara verbal maupun nonverbal. Pada terapi ini, terapis akan berusaha menciptakan hubungan komunikasi antara perilaku anak dengan bunyi tertentu. Dan anak autisme biasanya lebih mudah mengenali dan lebih terbuka terhadap bunyi dibandingkan pendekatan verbal. Kesadaran musik ini dan hubungan antara tindakan anak dengan musik, berpotensi mendorong terjadinya komunikasi.

Sabtu, 26 September 2009

No Smoking, please...

Saat ini tempat-tempat umum sudah menyediakan tempat khusus untuk para perokok agar tidak mengganggu kenyamanan sekitarnya. Selain itu, maksud diadakannya ruangan khusus ini agar bisa mengurangi jumlah perokok yang semakin hari semakin bertambah. Bahkan usia tidak lagi menjadi suatu halangan bagi para perokok ini. Entah apakah mereka sebenarnya sadar bahwa rokok itu berbahaya bagi kesehatan...
Sewaktu tugas di bagian Penyakit Dalam dulu, sebagian besar pasien yang masuk, baik dengan diagnosa penyakit yang ringan maupun yang berat, hampir selalu memiliki kebiasaan merokok saat muda ataupun masih berlanjut hingga saat itu. Bukanlah suatu yang mustahil jika penyakit yang mereka derita merupakan suatu imbas dari kebiasaan merokok tersebut. But regrets always come too late...hidup mereka sudah dipertaruhkan tanpa mereka sadari.

Awal mula rokok di dunia sebenarnya berasal dari suku bangsa Indian di Amerika. Mereka menggunakan rokok untuk keperluan ritual seperti memuja dewa atau roh. Lalu pada abad 16, ketika bangsa Eropa menemukan benua Amerika, sebagian dari para penjelajah Eropa itu mulai ikut mencoba-coba menghisap rokok dan kemudian membawa tembakau ke Eropa. Kemudian kebiasaan merokok ini mulai muncul di kalangan bangsawan Eropa. Tapi berbeda dengan bangsa Indian yang merokok untuk keperluan ritual, di Eropa orang merokok hanya untuk kesenangan semata-mata.

Setiap kemasan rokok selalu mencantumkan bahaya-bahaya merokok namun sepertinya peringatan itu hanyalah tulisan belaka yang hampir tidak pernah dibaca oleh para pengguna rokok. Pemerintah sendiri tidak terlihat memiliki usaha untuk mengurangi angka perokok di negara ini. Terbukti dari berbagai kegiatan di negara ini yang disponsori oleh pabrik rokok ternama...seperti pertandingan olahraga atau iklan iklan di media (koran)yang tampilannya bisa memakan satu halaman penuh. Hmm jika kemasan rokok tersebut diubah menjadi lebih menyeramkan, apakah para perokok akan memperhatikan dan mulai mengurangi kebiasaan buruk mereka tersebut ya?


Sementara itu, berbagai kampanye anti-rokok di berbagai belahan dunia juga sudah mencoba membuat berbagai poster atau iklan-iklan cetak...namun apakah berguna?

Minggu, 20 September 2009

Film : He's Just Not That Into You

Sebuah film yang bertemakan cinta lagi setelah beribu film yang muncul dengan tema sama. Namun tetap saja memikat para penonton, tak terkecuali saya. Film yang satu ini diangkat dari sebuah buku non fiksi yang berjudul sama lalu di tangan Drew Barrymore sebagai produser, film ini akhirnya muncul meramaikan dunia perfilman. Kisah-kisah cinta dari beberapa pasangan menjadi modal utama film ini.
Gigi (Ginnifer Goodwin) dan Alex (Justin Long), manager bar yang sulit berkomitmen dalam cinta. Janine (Jennifer Connely) dan Ben (Bradley Cooper) yang menikah di saat usia mereka masih sangat muda. Dan tali pernikahan mereka pun diuji dengan hadirnya Anna (Scarlett Johansson), instruktur yoga yang memikat hati Ben. Sementara Beth (Jennifer Aniston) dan Neil (Ben Affleck) memiliki masalah karena Neil yang tak kunjung melamar Beth setelah tujuh tahun mereka hidup bersama. Selain itu, Conor (Kevin Connoly) yang hanya menjadi pria cadangan bagi Anna, dan juga tak kunjung mendapatkan kekasih tak sengaja bertemu Mary (Drew Barrymore), salah satu klien yang selama ini hanya dikenalnya melalui telepon.
Sekilas tampaknya biasa saja, namun jika dilihat baik-baik film ini merupakan cermin kehidupan para wanita lajang di belahan dunia mana pun. Kehidupan pernikahan yang sarat dengan masalah...atau kehidupan melajang dengan segudang harapan akan kekasih...
Hmm...jika ingin bersantai sejenak dari rutinitas, cobalah menonton film ini...siapa tahu ada inspirasi untuk kehidupan cinta Anda.